Ada Musholla di Duta Besar

2:27 PM 0 Comments


Jakarta, 10 Agustus 2014
Masih ingat saat itu, ketika selesailah sudah Pekan Orientasi sebelum berangkat ke Amerika Serikat. Seluruh peserta YES 14-15 diundang oleh wakil duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Kristen F. Bauer di kediamannya. Kita berangkat dengan dua bus ke daerah taman suropati, kawasan elit ibukota Jakarta. Di dekat sana banyak rumah pejabat, seperti Rumah dinas Gubernur, Dubes Inggris, dan lainnya. 

Sebelum kesana kita ingat mampir ke sebuah masjid untuk sholat Ashar. Tepatnya di Masjid Agung Sunda Kelapa, daerah menteng. Karena lalu lintas cukup padat, akhirnya kami berjalan ke kediaman Wadubes AS. Sampai di depan, we make a line. Sejumlah kendaraan kedutaan ada diluar rumah, ciri-cirinya adalah dengan plat mobil CD 12 atau Corps Diplomatic dan 12 adalah kode untuk Amerika Serikat. 

Masuklah kita ke dalam dengan penjagaan cukup ketat untuk sebuah rumah. Metal detector, dan pemeriksaan barang bawaan. Petugasnya juga orang Indonesia. Masuklah kami dan dapatlah kami secarik kertas bertuliskan kompetisi selfie, video, dan lainnya selama di amerika dan berhadiah dari dubes Amerika. 

Sebagai orang Indonesia tulen yang tak pernah tinggal lama dengan orang Asing dan tak begitu tahu budaya mereka, cukup sulit untuk beradaptasi dengan suasa pesta saat itu. Kita dengan bebas menjelajah rumah Ibu Bauer dengan bebas. Ada sebuah piana di ruang tengah. Jika kamu mau, silakan. Semua makanan terhidang, ada beberapa menu indonesia yang di mashup dengan menu mereka tapi semuanya enak. Sebagai orang Indonesia tulen yang gak tau kenapa, terheranlah sama sebuah tisu kedutaan. Tisu makan biasa, tetapi dengan cap kementrian luar negeri Amerika Serikat. Kami tau tisu itu memang fungsinya untuk membersihkan. Tetapi beda kali itu, beberapa anak mengambil beberapa potong tissue dan menyimpannya sebagai sovenir. Tidak bisa disalahkan, kapan lagi bisa dapat tissue kedutaan kalo gak sekarang. 

Di kediaman ibu Bauer itu ada juga beberapa orang asing lainnya. Kemungkinan staff kedutaan Amerika. Dan saya melihat ada juga orang yang sama, yang mengabulkan visa amerika waktu di kedutaan beberapa bulan lalu. Berbincang-bincanglah kami mengenai gimana sih amerika itu dan beberapa obralan lain. Berbincang santai dengan seorang wakil duta besar itu suatu hal yang langka kalau bukan sekarang. Seperti tak ada pangkat tinggi dipundaknya, bercanda bersama bahkan dia sempat mengambilkan makanan kecil untuk ku. Menjadi anak Indonesia 17 tahun yang belum terlalu fasih berbahasa inggris cukup membuat kerepotan. Tetapi setelah mencoba ternyata bisa saja. Intinya kalian jika ingin bisa, PD aja. Bisa kok.

Adzan kali itu berkumandang, beberapa orang khususnya pria menjelajah rumah mencari musholat. berpencarlah kita. Hingga tak bertemu akhirnya. Kita melihat kesibukan orang di dapur. beberapa orang Indonesia menyajikan makanan untuk kami. Sepertinya mereka tau apa yang kami cari dan seseorang menghantarkan kami ke bangunan belakang. Memang bangunan belakang, memanjang. Masuklah kami ke dalam ruangan yang muat untuk 3 orang itu. Dikuncilah dan sholat berjamaah. Mungkin beberapa orang diluar menunggu kami. dan kini kami tau, ruangan itu adalah kamar pembantu.

0 comments: