Los Angeles, Dari Dunia Virtual ke Dunia Nyata

Halo apa kabar? Sudah lama tak posting halaman blog ini. Hehehee maklum, masih sibuk ngebuat plan buat Project Social nih buat GYSD atau Global Youth Service Day. Jadi GYSD itu semacam event untuk anak muda dunia berkontribusi terdapat dunia. Okey forget it.

Oh iya, aku mau cerita tentang pengalaman waktu aku jalan-jalan ke Los Angeles California.














Waktu itu bulan Januari tanggal 16. Kami dari cluster Illinois berangkat bersama sekitar 14 orang ke bandara lambert St.Louis untuk menumpang pesawat American Airlines. By the way, itu free trip lhoo. Jadi semuanya dibayarin dari Worldlink, mulai dari tiket pesawat dan segala macemnya. Denger-denger sih dari Placement Organization lain, kalau mau ke Los Angeles itu harus bayar kurang lebih $1,200 untuk ke sana. Beruntung banget dapet gratisan hari Placement Organizationku hehehe..
Okey, kita berangkat dari STL sekitar jam 3 siang, dan perjalanan sekita 3 jam dari STL ke LAX. Sepanjang jalan aku habisin untuk tidur, maklum capek nunggu di bandaranya. 
Sudah 3 jam berlalu, sampailah kita di LAX. Wow! amazing! Gak nyangka kita udah menginjakkan di kota yang sama dengan bintang-bintang international yang ada di Film-film. Oh ya, dari jendela pesawat juga kelihatan "Hollywood" Sign dari kejauhan. Ini seperti mimpi!
Keluarlah kita dari bandara lalu pergi ke Embassy Suites Hotel LAX North, salah satu hotel berbintang di Los Angeles. Kita di sana langsung di sambung oleh Mr. Stuzmant, President Worldlink yang bagi kartu kunci kamar untuk kita. setelah itu kami loading barang-barang di kamar. 

Kita di Los Angeles sebenernya adalah konferensi mid-term program. Jadi anak-anak worldlink dari seluruh USA dateng ke LA untuk konferensi ini. Sekita 118 anak di Hotel yang sama. Ada yang dari Nigeria, Gaza, Yemen, Kyrgyztan, Ubekistan, Tajikista, Russia, Poland, Mozambik, filipina, dan lainnya. Seneng sih bisa ketemu banyak orang karena jarang banget bisa ketemu gini. 

Di sana kita banyak banget kegiatannya tapi semuanya seru. Hari pertama kami diisi ngatur jadwal yang akan kita lakuin besoknya. 
Terus besoknya hari Sabtu kita pagi-pagi udah siap-siap rapi. Kita akan pergi ke Hollywood dan Santa Monica Pier. Kita dari hotel pakai bis double deck ke SMA deket Hollywood. Lalu kita jalan muter-muter terserah hingga jam 4 sore. Btw, aku jalan bareng anak Indonesia lain dan Russia. Kayaknya sih waktu 3 jam gak terlalu cukup untuk mengeksplor seluruh hollywood. Kita awalnya jalan menyusuri sidewalk ke arah hollywood sign tetapi ternyata itu terlalu jauh, akhirnya kita pergi ke Hollywood BLVD. Jika kalian tau, sidewalk di Hollywood yang ada tulisan nama-nama bintang. Itu dia. Kita takjub banget, karena gak nyangka bisa melihat lansung bintang-bintang itu. Kita akhirnya pergi ke balkon untuk melihat hollywood sign lebih jelas. 



BTW, di hollywood blvd itu banyak banget orangnya, alias rame. Dari berbagai negara datang kesana untuk melihat kehidupan industri perfilman amerika. Disana kita bisa foto-foto dengan tokoh tokoh superhero. tapi tentunya bayar ehehhee. Kita lihat juga Dolby Thearter, inget piala Oscar dong? nah disitulah redcarpet para superstars! Kita ke maddame Tusauds dan beli beberapa souvenir dari Los Angeles. Aku juga nemu tongsis di sana ehehee harganya sekitar 15$, harga yang cukup murah di Hollywood. 

Kita akhirnya pergi dari Hollywood ke Santa Monica Pieer. Kamu tau game GTA San Andreas? Itulah tempatnya! Real!
Kita kesana sengaja waktu sunset karena itu adalah the best timenya di santa monica. Kita bisa berenang disana, atau ke deck yang ada rollercosternya. Kita dapet 40$ buat beli makan disana, maklum disana mahal-mahal. AKhirnya kita pergi ke MCD terdekat buat dapet cheeseburger seharga 6$ hahaha hemat pangkal pelit hehee. Akhirnya kita makan sambil nikmatin suasana sunset. Habis makan, farhana minta naik rollercoster. Okey, kita turuti. Kita pergi ke sana dan membeli tiket. Harganya 6$ sekali ride. Ngantrinya MasyaAllah panjang banget. Kita mulai ngantri sekitar 6.35pm dan kita harus kembali ke hotel 7.15pm. Antara khawatir gak kesampean, akhirnya kita bisa naik 10 menit sebelum kita harus pergi. Seru banget naik rollercoster malem hari di pantai. Coba cek aja serunya! 



Kita kembali ke hotel untuk kegiatan selanjutnya.

Hari minggu kita berencana ke museum of tolerance di Beverly Hills, LA. Beverly Hills? Rumahnya artis dong? IYA! tapi sayang gak ketemu artisnya, mungkin mereka masih di dalem rumah. BTW, Museum ini adalah musium tentang toleransi terhadap perbedaan. Kita 118 anak dibagi ke 5 group agar lebih mudah. Kita keliling museum sembari di jelasin. Tapi Museumnya beda! Gak boring dan luar biasa. Interaktif dan krene. Di sana kita dijelasin apa itu perbedaan, dan apa yang harus kita lakukan untuk mengubah dunia. Pertama-tama kita masuk keruangan untuk lihat film lalu kita masuk ruangan lain. kita lihat banyak TV, dengan berbagai berita tengtang terorisme. ternyata tiap media berbeda-beda pandangan. Hal itu yang ngebuat stereotype diantara kita. Kita masuk ke tempat lain. kayak lorong sejarah yang interaktif tentang holocoust. Susah jelasinnya tapi emang keren banget!
Dan yang paling menyedihkan, gak berasa, Besok hari senin kita harus kembali kerumah masing-masing :(






School in U.S.


Columbia, 30 Desember 2014
Sudah tak terasa seminggu lagi udah mau masuk sekolah lagi aja setelah Winter Break selama 2 minggu. By the way, Alhamdulillah  first semester di Columbia High School dilewati dengan memuaskan. 

Waktu awal-awal sekolah (mulai sekolah 18 Agustus 2014) masih banyak ketemu kendala-kendala beradaptasi di sekolah baru. Khususnya mengenai bahasa. Wajarlah karena di sini menggunakan full bahasa inggris untuks setiap materi. Semerter pertama aku ambil jadwal simple. Yaitu Study Hall, Physical Education, CAD, Algebra, US History, English, Biology. Jadi aku hanya ambil 7 pelajaran/subjects di semester pertama. Di CHS pelajaran dimulai 7.45 sampai 2.45. 

Jadwalnya gini :
Senin dan Jumat : Masing-masing pelajaran 50 Menit pulang jam 2.45
Selasa dan Kamis : Masing-masing pelajaran 45 menit pulang jam 2.45 tapi ada advisory. Akan aku jelasin dibawah
Rabu : Masing-masing pelajaran 42 menit pulang jam 2.

Untuk sistem pelajaran di Amerika itu beda dengan Indonesia. Diawal semester, siswa diwajibkan bertemu dengan konselornya untuk mengatur jadwal pelajaran. Jadi terserah siswa ingin memilih pelajaran apa yang dia inginkan. Nah kali ini aku juga mau bahas pelajaranku untuk semester pertamaku kemarin.

Pertama, Study Hall. Apa itu study hall? Jadi di SMA amerika itu ada pelajaran study hall. Dari namanya Study Hall pasti kira mengira maksudnya adalah Belajar di Hall. Ya hampir mirip sih, jadi study hall itu kalau di Indonesia disebut pelajaran kosong. lhah kok? Sebenernya gak tau sih kenapa tapi aku sempet tanya-tanya katanya kebanyakan anak-anak amerika itu punya pekerjaan sampingan dari pulang sekolah sampai malam harinya. Jadi mereka gak sempet belajar, nah maka dari itu diciptakanlah study hall dimana mereka bisa belajar apapun di sebuah kelas. Pelajaran satu ini kadang menjadi pelajaran tersulit. Yep, karena pelajaran jam pertama dan kita udah belajar semalem dan kita gak tau apa yang harus kita lakuin dan ngantuk pun menyerang. Kadang misalkan kita habiskan untuk baca-baca aja itu juga masih sering tiba-tiba tidur dan bangun waktu bel ring.


Kedua, Physical Education. Ini hampir sama pelajaran olah raga di Indonesia. Jadi PE biasanya dilakukan di Football field atau gymnasium. Kita bisa memilih olah raga apa yang kita mau pada hari itu. Kalau mau fitnes silakan, main permainan olah raga silahkan, mau jalan saja silahkan. Ada hal yang unik di kelas ini. Ketika kita main soccer. Temen-temen itu malah menganggap aku paling jago main soccer dibandingkan anak-anak lain. Why? Gak tau kenapa, mungkin beruntung atau apa tapi setiap jadi goalkeeper mesti ball jarang masuk ke gawang. Sombong dikit hehee. Gak hanya itu aja, jadi kami ada Badminton champions selama 3 pekan bersama sekelas. Dan beruntungnya aku gak pernah kalah disetiap pertandingan dan akhirnya menjadi winner of the champions.


Ketiga, CAD. CAD adalah kepanjangan dari Computer Aided Design. Jadi kita berhubungan gak jauh-jauh dari komputer dan disain. Di CAD kita belajar untuk membuat disain mesin dan arsitektur. Dan biasanya pelajaran ini yang paling enak karena kita bisa dengerin musik lewat headphone dan pelajarannya gak terlalu banyak teori. Alhamdulillahnya aku dapet nilai yang bagus disini 98% untuk kelas ini. 

Keempat, Algebra. Jadi di amerika itu materi matematika itu di bagi-bagi. Geometri sendiri, algebra sendiri, prekalkus sendiri, dll. Jadi karena aku penasaran sama algebra maka aku ambil saja algebra. materinya hampir sama kayak di Indonesia kok. Alhamdulillahnya juga di kelas ini aku daper kredit 102%. Kok bisa? Ya bisa, nilai maksimal itu 100% tapi berhubung aku dapet ekstra kredit jadi 102%.








Kelima, US History. Pelajaran ini banyak cerita tentang sejarah amerika. Mulai dari politik, perang dan lainnya. Jadi sedikit tau rahasia sebenernya yang terjadi hehe. Di pelajaran ini cukup challenging bagi aku karena kita diharusnya mengerti sejarah yang bukan negara kita sendiri dan kita belum pernah mendengarnya sebelumnya dan wownya lain full inggris buku 500 halaman dimensi 20x12cm.  Di pelajaran kelima ini, aku kepotong jam makan siang. Biasanya kita lari ke cafetaria. Bedanya dengan Indonesia itu adalah disini kita buat antrian rapi menuju dapurnya. Terus ambil piring serbagunanya terus ambil makanan yang kita mau. biasanya makanannya beragam kayak pizza, burger, rice, dan lainnya. Dan pendamping yang selalu ada adalah susu, jus, buah apel, jeruk, stawberry, salad, manisan, roti, dan lainnya. kita pilih sepuasnya. Pokoknya satu porsi 4$ (4$ x Rp 12.500 = Rp 50.000). Habis itu kita mesukan input deposit tabungan makan siang kita ke komputer dan makan. Habis itu kita kembali lagi ke US History class dan melanjutkan pelajaran. Di pelajaran ini aku dapat nilai yang lumayan bagus 95% untuk kelas ini. 

Keenam, English. Hampir mirip kayak pelajaran inggris di Indonesia. Tetapi di sini lebih menfokuskan ke analisis sebuah karya tulis. Jadi biasanya kita baca novel dan analisis unsur-unsur apa yang terkandung di dalamnya. Novel yang bagus menurutku itu Night karya Elie Wiesel.

Ketujuh, Biology. Seperti di Indonesia. kita belajar tentang makhluk hidup tetapi lebih lengkap biology disini. karena kalau di Indonesia kita belajar biologi untuk 3 tahun, disini kita harus belajar semua biologi dengan materi isi yang sama dalam satu tahun saja.

Advisory adalah jam terakhir di hari Selasa dan Kamis. Advisory adalah jam memberikan kesempatan untuk siswa bertemu dengan gurunya dan bertanya apa yang belum jelas. Jadi hampir mirip dengan Study Hall. 

Habis itu kita pulang, yang bawa mobil yaa ke parkiran yang enggak yaa numpang Bus School. Dengan bus sekolah itu memakan waktu 45 menit, sebenernya gak terlalu jauh jarak rumah ke sekolah tetapi gara-gara muter-muter dulu itu yang membuat jenuh dan biasanya dipakai tidur.













I am an exchange student.

I am an exchange student.“Aku adalah siswa pertukaran pelajar.”



How do you know what is a dream if you never accomplished one. 
“Bagaimana kamu tahu apa itu mimpi jika kamu belum pernah mencapai salah satunya?”

How do you know what is an adventure if you never took part in one. 
“Bagaimana kamu tahu apa itu tantangan jika kamu belum pernah mengalaminya?”

How do you know what is anguish if you never said goodbye to your family and friends with your eyes full of tears.
“Bagaimana kamu tahu apa itu kesedihan jika kamu belum pernah mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga dan teman-temanmu dengan mata yang penuh dengan air mata?”

How do you know what is being desperate, if you never arrived in a place alone and could not understand a word of what everyone else was saying. 
“Bagaimana kamu tahu bagaimana rasanya putus asa jika kamu belum pernah tinggal sendiri di suatu tempat dan tidak mengerti apa yang orang-orang bicarakan?”

How do you know what is diversity if you never lived under the same roof with people from all over the world? 
“Bagaimana kamu tahu apa itu keberagaman jika kamu belum pernah tinggal seatap dengan orang-orang dari seluruh dunia?”

How do you know what is tolerance, if you never had to get used to something different even if you didn’t like it. 
“Bagaimana kamu tahu apa itu toleransi jika kamu belum pernah mencoba terbiasa dengan suatu hal yang berbeda walaupun kamu tidak menyukainya?”

How do you know what is autonomy, if you never had the chance to decide something by yourself? 
“Bagaimana kamu tahu apa itu otonomi jika kamu belum pernah berkesempatan untuk memutuskan sesuatu sendiri?”

How do you know what it means to grow up, if you never stopped being a child to start a new course?
“Bagaimana kamu tahu apa arti menjadi dewasa jika kamu belum pernah berhenti menjadi seorang anak dan memulai hal baru?”

How do you know what is to be helpless, if you never wanted to hug someone and had a computer screen to prevent you from doing it.
“Bagaimana kamu tahu rasanya tidak berdaya jika kamu belum pernah merasa ingin sekali memeluk seseorang dan kamu hanya punya layar komputer untuk mencegahmu melakukannya?”

How do you know what is distance, if you never, looking at a map, said “ I am so far away”.
“Bagaimana kamu tahu apa itu jarak jika kamu belum pernah melihat sebuah peta dan berkata ‘Aku sangat jauh’?”

How do you know what is a language, if you never had to learn one to make friends.
“Bagaimana kamu tahu apa itu bahasa jika kamu belum pernah mempelajarinya untuk mencari teman?”

How do you know what is patriotism, if you never shouted “ I love my country” holding a flag in your hands.
“Bagaimana kamu tahu apa itu patriotisme jika kamu belum pernah berteriak ‘Aku cinta negaraku!’ saat memegang sebuah bendera?”

How do you know what is the true reality, if you never had the chance to see a lot of them to make one.
“Bagaimana anda tahu apa itu kenyataan jika kamu belum pernah berkesempatan untuk melihatnya dan membuat salah satunya?”

How do you know what is an opportunity, if you never caught one.
“Bagaimana kamu tahu apa itu kesempatan jika kamu belum pernah menggapai salah satunya?”

How do you know what is pride, if you never experienced it for yourself at realizing how much you have accomplished.
“Bagaimana kamu tahu apa itu bangga jika kamu belum pernah mengalaminya sendiri dan menyadari betapa banyak hal yang telah kamu capai?”

How do you know what is to seize the day, if you never saw the time running so fast.
“Bagaimana kamu tahu bagaimana caranya menguasai hari jika kamu belum pernah melihat waktu berlari dengan sangat cepat?”

How do you know what is a friend, if the circumstances never showed you the true ones.
“Bagaimana kamu tahu apa itu teman jika keadaan tidak pernah menunjukkan siapa mereka yang sesunggunya?”

How do you know what is a family, if you never had one that supported you unconditionally.
“Bagaimana anda tahu apa itu keluarga jika kamu belum pernah punya seseorang yang mendukungmu tanpa syarat?”

How do you know what are borders, if you never crossed yours , to see what there was on the other side.
“Bagaimana kamu tahu apa itu batasan jika kamu belum pernah melanggarnya dan melihat apa yang ada di sisi lainnya?”

How do you know what is imagination, if you never thought about the moment when you would go back home.
“Bagaimana anda tahu apa itu imajinasi jika kamu belum pernah berangan-angan tentang keadaan saat kamu kembali ke rumah?”

How do you know the world, if you have never been an exchange student?
“Bagaimana kamu tahu dunia jika kamu belum pernah menjadi siswa pertukaran pelajar?”

I am an exchange student.
"Aku adalah siswa pertukaran pelajar" 




Originally written by Trygve U. Skogseth
Translated by Nesita Anggraini

Ada Musholla di Duta Besar


Jakarta, 10 Agustus 2014
Masih ingat saat itu, ketika selesailah sudah Pekan Orientasi sebelum berangkat ke Amerika Serikat. Seluruh peserta YES 14-15 diundang oleh wakil duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Kristen F. Bauer di kediamannya. Kita berangkat dengan dua bus ke daerah taman suropati, kawasan elit ibukota Jakarta. Di dekat sana banyak rumah pejabat, seperti Rumah dinas Gubernur, Dubes Inggris, dan lainnya. 

Sebelum kesana kita ingat mampir ke sebuah masjid untuk sholat Ashar. Tepatnya di Masjid Agung Sunda Kelapa, daerah menteng. Karena lalu lintas cukup padat, akhirnya kami berjalan ke kediaman Wadubes AS. Sampai di depan, we make a line. Sejumlah kendaraan kedutaan ada diluar rumah, ciri-cirinya adalah dengan plat mobil CD 12 atau Corps Diplomatic dan 12 adalah kode untuk Amerika Serikat. 

Masuklah kita ke dalam dengan penjagaan cukup ketat untuk sebuah rumah. Metal detector, dan pemeriksaan barang bawaan. Petugasnya juga orang Indonesia. Masuklah kami dan dapatlah kami secarik kertas bertuliskan kompetisi selfie, video, dan lainnya selama di amerika dan berhadiah dari dubes Amerika. 

Sebagai orang Indonesia tulen yang tak pernah tinggal lama dengan orang Asing dan tak begitu tahu budaya mereka, cukup sulit untuk beradaptasi dengan suasa pesta saat itu. Kita dengan bebas menjelajah rumah Ibu Bauer dengan bebas. Ada sebuah piana di ruang tengah. Jika kamu mau, silakan. Semua makanan terhidang, ada beberapa menu indonesia yang di mashup dengan menu mereka tapi semuanya enak. Sebagai orang Indonesia tulen yang gak tau kenapa, terheranlah sama sebuah tisu kedutaan. Tisu makan biasa, tetapi dengan cap kementrian luar negeri Amerika Serikat. Kami tau tisu itu memang fungsinya untuk membersihkan. Tetapi beda kali itu, beberapa anak mengambil beberapa potong tissue dan menyimpannya sebagai sovenir. Tidak bisa disalahkan, kapan lagi bisa dapat tissue kedutaan kalo gak sekarang. 

Di kediaman ibu Bauer itu ada juga beberapa orang asing lainnya. Kemungkinan staff kedutaan Amerika. Dan saya melihat ada juga orang yang sama, yang mengabulkan visa amerika waktu di kedutaan beberapa bulan lalu. Berbincang-bincanglah kami mengenai gimana sih amerika itu dan beberapa obralan lain. Berbincang santai dengan seorang wakil duta besar itu suatu hal yang langka kalau bukan sekarang. Seperti tak ada pangkat tinggi dipundaknya, bercanda bersama bahkan dia sempat mengambilkan makanan kecil untuk ku. Menjadi anak Indonesia 17 tahun yang belum terlalu fasih berbahasa inggris cukup membuat kerepotan. Tetapi setelah mencoba ternyata bisa saja. Intinya kalian jika ingin bisa, PD aja. Bisa kok.

Adzan kali itu berkumandang, beberapa orang khususnya pria menjelajah rumah mencari musholat. berpencarlah kita. Hingga tak bertemu akhirnya. Kita melihat kesibukan orang di dapur. beberapa orang Indonesia menyajikan makanan untuk kami. Sepertinya mereka tau apa yang kami cari dan seseorang menghantarkan kami ke bangunan belakang. Memang bangunan belakang, memanjang. Masuklah kami ke dalam ruangan yang muat untuk 3 orang itu. Dikuncilah dan sholat berjamaah. Mungkin beberapa orang diluar menunggu kami. dan kini kami tau, ruangan itu adalah kamar pembantu.

Di Tengah Natal

Columbia,
Yep, hari kamis, 25 Desember 2014. Semua orang tau jika itu adalah hari Natal. Seperti kita ketahui, mayoritas agama di Amerika adalah Kristen dan Khatolik. Jadi Natal menjadi hari libur atau sering di sebut Chrismast Break atau kalau di sekolah jadi libur dua minggu disebut Winter Break. Mirip seperti di Indonesia sih, tetapi beda nama saja. 

Jauh-jauh hari dari hari natal, orang amerika sudah menyiapkan diri menyambut natal. Mulai dari mamasang lampu hiasan di atap rumah, menghias pohon natal, dan lain-lainnya. Mereka seperti berlomba untuk menjadi yang terbagus dekorasi natalnya. Ada suatu rumah, beda blok dari rumahku. Dia mendekorasi halaman kecilnya penuh dengan laser, lampion dan lainnya. sehingga benar-benar halaman berubah drastis. Jadi lebih bagus sih, tapi heran aja apa gak sayang uangnya buat beli hiasan yang begitu banyak kayak gitu. 

Aku ingat sebelum mendekorasi rumah, kami pergi ke Home Depot untuk beli Chrismast stuffs. Waktu itu udara cukup dingin. Kita pakai tangga untuk pasang lampu warna-warni di atap dan beberapa hiasan di tanah. Selesai itu, Mom sibuk dengan indoor dekorasi kayak pohon natal dan lain sebagainya. 

Columbia, 24 December 2014
Chrismast eve, atau malam Natal. Dari pagi aku bangun agak siang. Setelah bangun langsung beres-beres terus siap-siap masak. Sesuai rencana, berhubung nanti ada kumpul-kumpul keluarga di rumah Uncle Kevin di st. Louis dan biasanya mereka makan pork dan aku tak bisa makan, maka Dad bilang kita bisa masak makanan kita sendiri dan dibawa ke sana. Oke, Dad udah beli beberapa bahan dan aku siap-siap masak Opor Ayam, Rendang, Nasi Goreng, sama Wedang Jahe. Awalnya sih santai aja, waktu itu jam 12 siang, tapi ternyata kita pergi jam 2. Semua makanan selesai dan semua aku yakin enak kecuali satu, Opor Ayam. Yep, tau kan opor ayam itu identik dengan santan. tapi berhubung disini gak ada santan yasudahlah alakadarnya. Btw, aku pakai bumbu instan Indofood.
Kita jalan pakai mobil dad ke St. Louis. 20 Menitan sampai ke rumah uncle Kevin. Kesan pertama ke rumah uncle kevin yaitu WOW!. Jadi rumah itu bagus banget. belakangan ada danau dan beberapa angsa masih di sungai. kalau kita ke baseman, di sana ada beberapa permainan. mulai dari billyard, dingdong, pinball, bingo, dll. kita bisa main sepuasnya kayak timezone. Biarkan para orang tua bercengkrama di atas, sedangkan anak muda bermain. Kita pulang, terus aku bingung. Aku masih ada kewajiban buat ngasih kado ke mom besok (hasil kocokan). Akhirnya aku nyusun rencana biar kadonya special. Menurut rencana, aku bakal bungkus laptopku ke box dan taruh dekat pohon natal sebagai kado untuk mom. terus habis itu mom bakal buka terus otomatis buka blog yang isinya clue dimana kado yang sebenarnya berada. terus mom bakal menyelesaikan misi pencarian kado. Persiapan sudah matang, 

Columbia, 25 Desember 2014
Hari ini natal, pagi hari belum ada yang terlalu special. Masih seperti biasa saja. Tak seperti yang digambarkan di TV, film home alone. Ketika natal bakal salju, tapi tahun ini tidak. Tak ada setetespun salju, malahan panas cuaca hari ini. Where is snow? Kadang film tidak bisa memberikan fakta memang. 
Pagi jam 8 tapi dad waktu itu udah siap-siap bawa meja dan kursi lipat ke dalam rumah. Berbenahlah kita, ada yang nata meja, kursi. Ada yang ngatur dekorasi, masak dan lainnya. Jam 12 orang-orang datang kerumah. keluarga besar berkumpul lengkap dengan hadiah yang mereka bawa untuk dibagi-bagi. Berjalan kita berbincang-bincang. tiba waktunya sholat dhuhur dan inilah yang paling berbeda. Aku dan Ermek(double placement dari kyrgistan) sholat jamaah di kamarnya, sedangan orang-orang lain masih berbincang di luar kamar. jadi merasa sesuatu, Indahnya perbedaan. Selang beberapa waktu, kita buka hadiah masing-masing. Aku dapet beberapa hadiah yang katanya dari santa klaus. Cukup lumayan sih untuk main game, simpan uang, untuk laptop, dan sebagainya. Hari yang luar biasa.

You're Under Arrest!


Columbia, 21 December 2014
Hari libur saat itu, Semua orang mempunyai rencana sendiri untuk menghabiskan liburan sebelum natal tiba, termasuk aku. Ingat ketika itu udara cukup dingin, kira-kira 3°C dan sedikit salju. Tak banyak aktivitas berarti yang terlihat di Columbia. Hanya segelintir mobil tak seperti biasa. Mungkin mereka sudah pergi sejak awal jumat lalu atau hanya tinggal bersantai di rumah. Sejak musim dingin tiba, satu bulan yang lalu itulah terakhir kali aku bermain sepak bola. Yeah, waktu yang cukup lama untuk tak bermain sepak bola. Berhubung suhu tak terlalu dingin and I don't know what to do, Sepak bola mungkin akan menyenangkan hari ini. 

I put my jacket on, too hot. Take it off, too cold. Problematika anak Khatulistiwa yang ada di benua empat musim. Lebih baik panas dari pada kedinginan. Pakai kacamata hitam, warm hat, isi backpack dengan Ball, Soccer Shoe, Gloves, Energy Drink, Soda, Olive Oil, Shin Guard, some candy. I'm Ready, me and Ermek ride bike to High School field.

Sunyi kali saat itu, di jalanan sepi. Mobil lewat disamping kami mungkin hanya satu menit sekali. Lolong anjing hitam di halaman belakang rumah dekat Fairfax Drive ketika lewat. Alat berat Bobcat di depan bangunan rumah baru dekat Marien St terdengar menyala. Beberapa mesin pemotong kayu juga masih menyala, tetapi tak ada satupun orang saat itu. Sunyi sepi di saat perjalanan.

Sampai kita di High School. Parkir sepeda ada di tempat. Gendong backpack lalu masuk ke lapangan. Ada dua orang kala itu. Satu pria mungkin 60 tahunan dengan jaket warna biru jogging di track. Satu pria lagi dengan jaket hitam di sudut jauh lapangan dengan push up. 

I put my soccer shirt, shoe,  gloves on. Memulai permainan sepak bola berdua. Mulai penalty, corner kick hingga World Cup semua jadi menyenangkan. Cukup lama kita main, mungkin 45 menit hingga tak sadar seorang pria setengahbaya berdiri di ujung lapangan dekat pintu masuk menuju tribun penonton. Panggilah dia ke dua Asian people yang masih bermain sepak bola. Berlarilah kami kesana dan menghampiri. 

"What are you doing here?" He said.
"We playing soccer." I said
"Why you do that? You not allowed to play soccer here. I will call police but I don't do that." He said again.
Terdiam kami saat itu. What's going on. Kita tak diijinkan bermain sepak bola di sekolah sendiri? Bukankah beberapa bulan lalu kita juga berulang kali bermain di sini dan itu tak jadi masalah. 
I don't understand whats going on. Tetapi apa jadi lucu ketika dua exchange student misalkan beneran jadi ditangkap polisi gara-gara bermain sepak bola di sekolahnya sendiri?
Coba kita mencari papan aturan, tak ada yang bertuliskan dilarang bermain di sini. Tetapi masuklah orang itu ke dalam mobilnya, ambil secarik kertas dan menulis nama kami. Tak mau banyak berargumen karena kita tak tau apa yang terjadi. Pergilah kami dari sekolah. Dengan membayangan hal yang unik baru terjadi.

Bina Antarbudaya?


Bina Antarbudaya adalah lembaga nirlaba non-pemerintah yang mengelola program pertukaran pelajar di Indonesia. Bermitra dengan AFS Intercultural Programs, setiap tahunnya Bina Antarbudaya menerima dan mengirimkan banyak siswa/siswi ke berbagai penjuru dunia dengan misi untuk saling mengenal kebudayaan masing-masing.

Kegiatan AFS di Indonesia dimulai oleh Wartomo Dwijoyuwono, yang pada tahun 1956 bersama Ibrahim Kadir dan Mohammad Diponegoro dikirim ke Nebraska, Amerika Serikat, Untuk mengikuti Youth Specialist Program selama empat setengah bulan, atas undangan pemerintah Amerika Serikat. Mereka bejumpa dengan sejumlah pelajar dari berbagai negara Eropa yang tengah mengikuti program AFS. Sepulangnya dari sana mereka memprakarsai dan memulai program AFS di Indonesia
Bermula hanya mengirim tujuh pelajar( diantaranya Taufiq Ismail dari Pekalongan dan Z.A. Maulani dari Banjarmasin) untuk program satu tahun, kini berkembang menjadi lebih dari 80 siswa setiap tahunnya untuk mengikuti program baik yang satu tahun maupun yang jangka pendek.
Dalam perjalanannya 50 tahun, program AFS di Indonesia mengalamai beberapa kali pergantian pengelola. Pada Awalnya program dimulai oleh Wartomo Dwijoyuwono, kemudian dikelola oleh Yayasan Beasiswa International yang dipimpin oleh Wartomo dan Ny. Djuwari yang dikenal juga sebagai Ibu Wijaya. Selanjutnya program dikelola olehIkatan Returnee AFS atau lebih dikenal dengan IRA. Sejak tahun 1985 program AFS dikelola oleh Yayasan Bina Antarbudaya.
Bina Antarbudaya didirikan pada tanggal 2 Mei 1985 oleh Taufiq Ismail, Tanri Abeng, Irid Agoes, Kartono Mohamad, dam Sophie Gunawan Satari Tujuan Bina Antarbudaya adalah mencipatakan perdamaian dunia melalui pemahaman antarbudaya. Bina Antarbudaya berprinsip tidak membedakan agama, ras, pendidikan, latar belakang sosial dan ekonomi, bersifat nirlaba dan berorientasi pada kepentingan orang banyak. Bina Antarbudaya mengembangkan dirinya sebagai organisasi milik masyarakat, yang melibatkan berbagai kalangan tanpa adanya eksklusifitas dan elitisme.
Beberapa tokoh Indonesia yang merupakan alumni dari program AFS adalah

1. Taufiq Ismail
2. Tanri Abeng
3. Z. A. Maulani
4. Anies Baswedan
5. Imam B. Prasodjo
6. Najwa Shihab
7. Valerina Daniel
8. Indra Herlambang
9. Uli Herdinansyah
10. Rissa Susmex
11. Joko Anwar
12. Mario Teguh
13. Chantal Della Concetta
14. Yazied Syafa'at
15. Yudhi Afzandiari
16. Fadhli Zon, dll
Bina Antarbudaya memiliki kantor pusat di Jakarta, Jalan Limau no.22, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selain itu, Bina Antarbudaya memiliki 16 chapter (cabang) di Aceh, Ambon,Medan, Palembang, Padang, Jakarta, Bogor, Bandung, Karawang, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Banjarmasin, Samarinda, Makassar, Bali (Sekarang 22 chapter). Kegiatan dicabang dikelola penuh oleh relawan. Relawan tersebut mencakup seluruh lapisan anggota masyarakat dari berbagai latar belakang, baik usia, pendidikan, sosial ekonomi.
Program dibedakan berdasarkan lama program, misi, kerjasama atau permintaan khusus dari suatu negara atau yayasan lain. Program utama Bina Antarbudaya tentu saja AFS year programme. Pelajar yang terpilih akan dikirim ke salah satu dari negara tujuan Amerika Serikat, Jepang, Australia, Norwegia, Belgia, Perancis, Italia, Belanda, Jerman, Selandia Baru. Lama program tersebut 11 bulan, kecuali Jepang hanya 6 bulan.
Short programme selama 2 minggu dengan negara tujuan Jepang adalah kerjasama dengan LSM JENESYS dari Jepang.
Sejak tahun 2003, Amerika Serikat bekerja sama dengan Bina Antarbudaya membuka program YES dengan misi pertukaran budaya dan pemahaman akan agama Islam.
Saat ini Bina Antarbudaya tengah mengupayakan pengembangan program lain seperti pertukaran guru, pertukaran relawan. Selain itu, relawan (voulenteer) beserta returnee aktif dalam kegiatan sosial dan mengadakan seminar/workshop pengembangan diri. Bina Antarbudaya juga berafiliasi dengan American Field Service (AFS) Apa itu AFS?

Sumber wikipedia